Hatiku Ngilu

26 Maret 2008

betapa tidak ngilu, melihat berita yang ditayangkan akhir-akhir ini. Di beberapa daerah terjadi gizi buruk, ada anak umur 2 tahun bobotnya gak sampai 10 kilo (anakku yang bungsu aja hampir 10 kilo), ada anak umur 4 tahun gak bisa jalan, perut buncit, nafas kembang kempis. Miris juga, aku hanya membayangkan bila anakku dalam posisi seperti itu. memang anakku yang bungsu pernah masuk rumah sakit gara2 diare berat, makan gak mau, minum gak mau. Lima hari dalam perawatan dan itu menyiksa hatiku (sma istri tentu saja) Uang bisa dicari tapi perasaan khan gak bisa diganti. Kejadian itu saja bisa membuat aku stres berat apalagi orang tua yang anaknya samapi masuk aktegori gizi buruk. Waduh, gak bisa membayangkan., memang di satu sisi disebabkan karena kemiskinan, tapi disisi lain bisa juga disebabkan karena ketidaktahuan (bahasa halusnya bodoh). Masih ada orang tua yang menganggap bahwa anaknya cukup hanya diberi air tajin, atau pisang dan nasi tanpa sayur/lauk. Lagi-lagi waduh, mau dikemanain bangsa ini jika ini terus menerus terjadi. Gimana bangsa ini bisa maju, jika cara berpikir seperti itu tidak segera diperbaiki. Ini tugas pemerintah, tentu didukung oleh semuanya (yang merasa bangsa Indonesia)

Memang masalah ini seperti ikatan rantai yang gak bisa dipisahkan satu persatu, selalu saling berhubungan. Tapi gimana cara memeachkan masalah ini dengan segera tanpa harus perlu saling menyalahkan. itu yang jadi pekerjaan rumah kita semua


“Bapak”ku sayang “bapak”ku malang

18 Maret 2008

waduhhhhhh, kasihan juga kalau dengar kata2 temen kantor soal pak pendeta satu ini, soalnya pasti sangat menyengat kuping, bikin merah hati sikuping.

memang aku gak tahu apa yang melatar belakangi mereka, sehingga membuat temen kantor ku begitu memojokkan si bapak ini. dan aku juga gak tahu sikap bapak ini seperti apa terhadap temen kantorku itu. Misalkan aku menjadi sibapak ini dan mendengar kata-kata maupun tindakan temen kantor ini, tentu saja bisa terjadi perang tanding, Baratayuda ke 2. untung saja aku bukan si bapak, yang dengan kalemnya (tentu dia tahu perlakuan dan gosip yang diedarkan oleh temen kantorku) dan bijaksana (menurut ukuranku), tenang saja dengan segala perlakuan yang dia dapatkan.

di sisi lain, kadang kelakuan si bapak ini juga agak menjengkelkan. sampai hari ini, segala sesuatu yang berhubungan dengan kontrak kerjanya, belum bisa diputuskan. mungkin banyak pertimbangan yang dia pikirkan. tapi sebagai orang yang di”muliakan”, mbok yao bisa segera memutuskan. apak lanjut, tetap smapai kontrak habis atau melanjutkan kuliah?

kalau aku pribadi, sengaja aku gak mau ikut campur dengan masalah ini. biar temen kantorku tetap seperti itu (selama tidak keterlaluan saja), dan sibapak dengan gayanya sendiri.

biar Tuhan yang melihat dan menilai amin


Pendidikan Anak

12 Maret 2008

Hari ini di kantor kerjaan nggak begitu banyak, hanya masukin nota pengeluaran ke kas harian. Saat hari sudah mulai siang, menjelang jam pulang aku sempat diskusi sebentar dengan temen kantor soal pendidikan anak. Topik ini kuangkat saat aku ingat bagaimana orangtuaku begitu memanjakan adikku. Awalnya saat EO tempat adikku kerja ternyata gagal mengadakan acara hanya karena urusan perijinan, mereka harus menanggung kerugian sekitar 90 juta. Aku gak tahu semua itu harus ditanggung berapa orang, tiap orang kena berapa juta. Tapi yang ku tahu dan bisa aku pastikan adikku harus ikut nanggung juga. Hanya saja orang tuaku gak mau/berani berterus terang sama aku (mungkin karena aku terlalu “keras” kalau ngomong). Secara materi aku gak begitu peduli, yang aku peduliin hanyalah sikap orang tuaku sama adikku yang gak mendidik sama sekali (perlu diingat adikku sudah punya istri dan anak). Setiap kali adikku kena masalah yang berakhir dengan urusan duit, sudah pasti orang tuaku yang menanggungnya, tidak masalah kalau itu terjadi hanya sekali-sekali, tapi ini sudah kesekian kalinya. Aku hanya berpikir gimana adikku bisa bersikap dewasa dan mandiri (bersikap sebagai kepala rumah tangga, bertanggung jawab sebagai orang tua dan suami) kalau tiap kali ada kesempatan kerja harus minta dana dari orang tua dan tidak pernah dikembalikan, bahkan terkesan hangus (kerjaan juga tidak didapat).

Kembali ke diskusi yang aku lakukan sama teman kantor. Diskusi itu kuawali dengan pertanyaan bagaimana sikap dia, sebagai orang tua, ketika mengetahui anaknya (misalnya sudah “mentas”) terlibat masalah? Dia menjawab tentu sebagai orang tua dia tidak akan “negakake” (tinggal diam), dan berusaha untuk membantu (secara materi maupun moril), namun itu jika si anak memberitahu dia. Kemudian aku menambah pertanyaan jika masalahnya terjadi berkali-kali, apa yang dia lakukan? Dia jawab kalau itu terjadi terus menerus secara materi dia akan berusaha bantu, tapi dilihat itikad si anak dulu, apakah di anak berusaha mencari jalan keluar sendiri/ tidak. Jika setiap menghadapi masalah kemudian anak selalu bergantung kepada orang tua dengan harapan : pasti orang tuaku bisa menyelesaikan tanpa itikad untuk menyelesaikan sendiri., itu berarti anak tidak bisa bersikap dewasa. Tugas orang tualah yang harus meluruskan sikap anak supaya bisa menyelesaikan masalah sendiri.

Oke – oke saja melibatkan orang tua dalam setiap masalah, tapi harus dilihat kondisi dan situasi. Orang tua hanya bisa melakukan tugas pengawasan tapi tugas penyelesaian berada di tangan anak. Diskusi kami berakhir dengan kesimpulan : menjadi orang tua itu susah – susah gampang, memoles anak menjadi orang yang dewasa rohani dan jasmani, mendidik sikap dan sifat supaya ketika dewasa mampu bersikap baik. Seperti pepatah yang mengatakan anak itu cerminan orang tua, seperti kertas putih, tinggal orang tua mau menulis/menggambar apa jadilah anak itu kelak dewasa.


Hidupkoe

6 Maret 2008

Hallo,

namaku Pongky, lengkapnya Pongky Yoedo Hananta. Laki-laki/32 th/2 anak/ 1 istri (gak rencana nambah). kerja di gereja (GKJ Nusukan Surakarta)

Rencananya blog ini akan berisi seputar kehidupanku, keluarga, anak-anak, kerjaan, hasil perenungan. Tapi kita lihat saja perkembangan selanjutnya.

selamat menikmati