Mungkin aku harus mencabut kata-kataku yang dulu, bahwa aku dan istriku “pengennya” memasukkan Damar (anakku pertama) ke playgroup. Supaya bisa adaptasi dengan suasana bersekolah. Tapi di luar dugaan, ketika istriku mengambil formulir pendaftaran, oleh salah seorang guru di situ malah dianjurkan supaya langsung masuk ke TK. Guru itu memberikan pertimbangan bahwa playgroup dan TK A (TK Kecil) masuknya sama setiap hari, perbedaannya hanya di jam masuk (selisih ½ jam saja) serta di pelajarannya (playgroup lebih banyak bermain, sedang TK sudah mulai diajari huruf dan angka, serta menulis dan membaca).
Sempat juga sih kami bingung, apakah Damar mampu mengikuti pelajaran itu, apakah dia gak stress? Tapi setelah bertanya sana – sini dan mencari bocoran ke orang tua yang menyekolahkan anaknya ke situ, ternyata kebanyakan anak mereka tidak begitu kaget dengan suasana yang ada, artinya walaupun tidak memiliki latar belakang diajari di rumah tetap saja bisa mengejar. Mendengar hal itu kami menjadi yakin bahwa memasukkan Damar ke TK adalah pilihan yang terbaik (pilihan yang bijak…….belum tentu juga).
Disamping itu, istriku juga sudah mengajari Damar angka dan huruf, walaupun masih belepotan sih. Tapi Damar bisa kok kalau hanya huruf A – Z serta angka 0 – 9. kalau menulis angka dan huruf memang baru sedikit – sedikit, harus dibantu dengan titik –titik. Dari sinilah kami berdua semakin tambah yakin untuk segera memasukkan ke TK. Di luar itu juga, kami bisa mengajkuan besiswa ke YKHD lewat Sinode. Lumayan dapat bantuan SPP, setidaknya meringankan pengeluaran bulanan walau tetep saja harus ekstra uang saku.
Ditulis oleh damarwikan
Ditulis oleh damarwikan 