Terkenang – kenang

6 Juli 2008

kemaren soren aku dan istriku dapet undangan persekutuan doa untuk mantenan tetangga, btw mereka itu yang dulu beli rumahku (dengan harga persodaraan tapi bayarnya juga semena-mena). waktu aku datang (yang memang sengaja kusetting telat) aku dapat duduk di pinggir rumah. Persekutuan doa itupun dimulai dengan khidmat.

namun aku gak mau ngomentari persekutuan doa itu, hanya tempat persekutuan doa itu yang bikin memori masa kecilku bangkit. sedikit rasa marah, romantis, dan sebagainya jadi satu. Marah karena rumah tempat masa kecilku (hampir seluruh hidupku malahan) dihabiskan ternyata harus dijual. Romantis karena kenangan waktu pacaran sama bekas istriku (sekarang dah jadi istri) di situ pula. tapi apa daya memang itulah jalan hidupku yang harus seperti itu.

Mau marah tapi sama siapa, sama yang beli rumah itu atau sama sodara2 dari ibuku. Aku gak tahu, dan sampai sekarang masih ada saja perasaan gak rela rumah itu sampai terjual ke tangan lain. memang idealnya rumah itu nanti aku sama adikku yang nempati (kalau gak kami jual utk dibagi berdua hehehe)

Setiap kali aku hanya bisa berdoa supaya perasaan ini segera bisa keluar (minimal aku kelola) dengan baik