Moral kok diatur negara?

4 November 2008

RUU Pornografi sudah disahkan jadi UU, siapa yang merasa senang tentu saja mereka – mereka yang diuntungkan dengan pengesahannya (biasanya mereka ini orang – orang yang sok suci, munafik dengan pornografi)

ada yang menarik setelah pengesahan RUU ini, memang dalam beberapa pasal membuat pelaku pornografi dan pornoaksi berpikir dua kali untuk melakukannya. akan tetapi bagi orang – orang yang awam dengan hal itu (dibaca : tidak begitu aktif)

Beberapa anggota Dewan mengatakan bahwa pasal – pasal itu memang berbicara tentang melindungi generasi bangsa yang sudah morat marit ini. Mereka memberi contoh negara Adikuasa Amerika, Singapura. tetapi mereka lupa satu hal bahwa negara itu sudah memberlakukan hukum dengan benar. Artinya Aparat penegak hukum bekerja dengan baik, sehingga untuk urusan Pornografi dan pornoaksi, mereka bener – bener tegas dalam distribusinya.

Sebenarnya yang dibutuhkan Indonesia bukan Undang – Undang yang mengatur hak seseorang, melainkan pengaturan dan pendidikan moral yang dalam terhadap manusianya. Sejatinya jika Negara mampu mendidik moral anak – anak muda generasi bangsanya dengan baik, aku percaya kok kalau pornografi dan pornoaksi akan surut dengan sendirinya.

semoga saja Undang -undang ini tidak disalahgunakan oleh orang – orang yang menamakan dirinya pembela “Allah” (Tuhan kok dibela manusia, emang Tuhan gak mampu bela dirnya sendiri huh)


Seminar Mendidik Anak

4 November 2008

Tanggal 26 Oktober 2008 kemaren, aku dan istri ikut seminar keluarga muda di gereja, GKJ Nusukan, dengan tema Anak dalah mutiara berharga di mata Allah” pembicara seminar tersebut adalah Ibu Adeline Anatasia A A, S.Si, S.Psi dari Mitra Peduli Centre Semarang. Waktu kami berdua memutuskan ikut seminar itu, dalam pikiranku sama sekali gak ada gambaran nanti seminar itu akan berbicara tentang anak yang seperti apa. Yang ada hanya pikiran paling – paling gimana mendidik anak yang bener, seperti Alkitab bilang, atau paling banter seperti Serial “Nanny 911” di Metro TV.

Pembicara membawakan makalah dengan cukup cepat, alasannya bahan yang ingin diberikan itu adalah bahan utk 9 session (kurang lebih utk 2 hari penuh), makanya dia berusaha memberikan hal – hal yang dianggap paling penting saja.

Dari semianr itu ada beberapa hal yang aku dapatkan, dan mudah – mudahan bisa kupraktekkan ke anak – anakku (Damar – Wikan), salah satu contohnya : saat anak mau berangkat sekolah yang dibutuhkan adalah dorongan, motivasi bukannya cercaaan, omelan serta makian malahan. (padahal sering kali itu terjadi sama anakku). Contoh lain : untuk anak usia SD ke bawah (pra sekolah, sampai usia SD) orang tua harus memberikan pengertian tentang Benar dan Salah, Hitam dan Putih (bukan abu – abu) artinya kita harus tegas memberi pengertian ini boleh dan itu tidak boleh. Pembicara bilang ini model Diktator. Mengapa harus demikian, karena itu akan membentuk watak si anak, dan pada usia itu anak tidak bisa berpikir logika kehidupan, yang mereka tahu adalah nyata dan tegas.

Ada hal lain yang kami dapat yaitu untuk mengetahui cara mendidik anak yang tepat adalah pertama, kita harus refleksi / intropeksi diri, bagaimana cara orang tua masing mendidik kita, apakah keras, otoriter, penuh sentuhan, memiliki waktu khusus, pelayanan, hadiah. Kedua, Setelah kita tahu cara orang tua mendidik kita maka kita otomatis bisa menerapkan hal yang kita peroleh dari orang tua kita ke anak – anak kita (tentu dari segi positifnya saja). Misalkan kalau bapak kita mendidik dengan cara sentuhan fisik (sering memeluk, sering membeli, menggandeng tapi saat marah juga memukul) dan ibu kita sering memanjakan kita (dilayani semua kebutuhan kita, makan disuapi, minum diambilkan, baju dicucikan, disetrikakan dan lain sebagainya) maka kita bisa mendidik anak dengan cara sentuhan fisik (memeluk, membelai, menggandeng) dan dengan cara pelayanan (dimanjakan) namun dengan cara positif.

Saat ada pertanyaan, boleh tidak kita memukul anak, jawaban dari peserta ada dua dengan berbagai alasan. Ada yang boleh jika kesalahannya sudah terlalu fatal, ada yang menjawab tidak boleh karena bisa menyebabkan trauma. Namun pembicara memberi solusi yaitu orang tua boleh memukul anak dengan syarat tanpa disertai emosi, yang boleh dipukul juga tertentu saja yaitu pantat.

Yang kudapat dari seminar itu intinya dalah jika kita ingin mendidik anak kita secara tepat, orang tua perlu intropeksi diri. Orang tua juga harus berpikir dari sudut pandang anak, jangan melulu berpikir dari diri sendiri.