Teroris atau Martir (Pahlawan/Lawan)

akhirnya Tiga sekawan teroris yang menamakan dirinya komplotan Tenggulun di eksekusi. bagi sebagian orang mungkin ini melegakan (para korban dan yang tidak setuju jihad kekerasan tentunya) tapi bagi orang lainnya tentu ini merupakan sesuatu yang harus di pahami sebagai martir(syuhada). Memang pandangan orang bisa berbeda – beda, namun yang harus dipahami adalah bagaimana pandangan tersebut mempengaruhi kehidupan orang lain.

hal ini terlihat ketika di semua stasiun televisi meliput akhir kehidupan para teroris ini, setelah mereka dieksekusi tembak mati, kehadiran mayat mereka saja masih disambut gembira oleh orang – orang yang menganggap mereka itu pahlawan. Sambil berteriak menyebut Tuhan, mereka bahkan menolak aparat untuk masuk dan mengamankan tempat terakhir si teroris itu.

yang aku tidak mengerti adalah sikap mereka itu, apakah tidak terbersit dalam pikiran mereka akibat yang ditimbulkan oleh kerjaan mereka. Dampak bagi ekonomi Indonesia, Bali terkhusus. Bahkan yang paling menderita sekali yaitu para korban, bukan hanya orang luar negeri namun orang sendiri (muslim maupun non muslim). Apakah sudah tidak ada lagi nurani yang baik dalalm pikiran mereka. Aku pikir mereka pasti tidak pernah memiliki empati terhadap apapun, selain untuk kepentingan sendiri.

sungguh kasihan jika Agama, kepercayaan terhadap Tuhan disalahartikan demi mengumbar keinginan sendiri. Tuhan hanya dijadikan tameng agar setiap tingakhnya dianggap suci/sahid.

inilah potret bangsa yang belum siap untuk dewasa, ketika ada hambatan, ketidaksesuaian, tantangan, perbedaan pendapat, maka yang dihadirkan pertama kali adalah kekuatan untuk perang bukan duduk bersama dan menyelesaikannya. Semoga bangsa ini bisa belajar dari kesalahan yang ada.

Tinggalkan Balasan