Susah turun sudah turun tetap susah (huh)

23 Desember 2008

Ya begitulah keadannya, memang fenomenal sekali pemerintahan RI yang sekarang ini. Membuat kebijakan yang sangat popular di mata rakyatnya, yaitu menurunkan harga BBM. Memang selama RI dipimpin oleh 5 kepala negara, baru kepala negara yang ke enam yan berani menurunkan harga BBM (terutama pertamax dan bensin).

Ketika kebijakan ini diumumkan, rakyat menyambut gembira. Banyak yang menyanjung- nyanjung pemerintahan ini, pujian bertubi – tubi datang, hampir semua orang angkat topi dengannya. Tapi ada juga yang meragukan kebijakan ini hanya sekedar menarik simpati rakyat, mengingat tahun depan pemilihan presiden akan dilaksanakan dan kalau tidak ada halangan presiden sekarang (wakil presidennya juga) akan mencalonkan diri kembali. Wah..wah ….wah, sinisme tetap akan selalu terdengar saat suatu kebijakan dibuat pemerintah. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa ini hanya salah satu strategi pemerintah untuk bisa meredam demontrasi – demontrasi yang banyak digelar hanya untuk menuntut penurunan harga BBM.

Tapi sekali lagi kita patut bersyukur atas keberanian pemerintah sekarang ini, di luar ada skenario politik di belakangnya atau segala tetek bengek lainnya. Sekarang melihat kenyataan di lapangan setelah hampir 1 minggu harga BBM (pertamax dan bensin) turun. Pasokannya ternyata juga dibuat pertamina (pemegang hak atas penditribusian BBM) tersendat – sendat. Terbukti di beberapa daerah terjadi antrian panjang untuk sekedar mengisi bahan bakar di SPBU. Menurut pengelola SPBU memang setelah penurunan harga pasokan dari Pertamina agak berkurang, yang biasanya setiap hari disetor 3 tanki sekarang menjadi tiap 3 hari disetor 2 tanki.

Fenomena ini kelihatannya memang disengaja, pertama rakyat dibuat terbuai dengan euforia semu tapi kemudian dihadapkan dengan sebuah kenyataan yang diskenoario sedemikian rupa. Kita bisa berpikir apakah pemerintah sekarang itu benar – benar rela menurunkan harga BBM atau hanya kerjaan si”Pedagang” yang tidak mau rugi saja. Keputusan untuk menilai memang akhirnya jatuh ke tangan rakyat.


Mencoba yang baru

23 Desember 2008

Selamat Natal semuanya, Damai sorga selalu dirasakan kita semua


LastRI oh lastRI

1 Desember 2008

kembali kedewasaan anak manusia terutama manusia yang bercokol di Indonesia diuji. Ketika masih dalam tahap pendekatan, dan permintaan ijin pembuatan shooting Film berjudul Lastri, begitu banyak ormas beserta masyarakat yang mengatasnamakan dirinya perwakilan dari warga Solo menolak dengan alasan karena film tersebut mengangkat tema / latar belakang tahun 1965 (dalam hal ini tentang PKI atau Komunisme).pihak pembuat film mengatakan bahwa film ini murni tentang percintaan, bukan tentang penyebaran paham komunisme. Lha wong sang sutradara adalah seorang Nasionalis Pancasilais. lagian sang sutradara adalah seorang politikus terkenal dan anak seorang kyai terkenal di Jawa Timur. Sungguh mustahil jika tuduhan itu di sodorkan kepada beliau. Tapi pihak yang menolak juga berargumentasi bahwa paham komunisme tetap bisa dikemas dalam bentuk apapun juga, mereka juga mengatakan kenapa tidak membuat film dengan latar belakang yang lain saja selain tahun 1965.

waduh waduh, semakin rumit nih jalan ceritanya. Yang jadi pikiranku adalah pertama, apakah pihak yang menolak sudah pernah membaca skenario secara utuh, atau hanya sepenggal -  sepenggal saja? kalau hanya bermodal “pokoke” wah susah juga untuk memberi pencerahan kepada pikiran mereka yang sudah di tembok sedemikian rupa. Memang komunis pernah membawa suatu trauma tersendiri bagi bangsa ini, tapi apakah komunisnya atau karena mindsetnya yang sudah terbentuk bahwa gara-gara PKI timbul huru hara sedemikian hebatnya. Pikiran kedua, dari pihak pembuat filmnya, apakah mereka juga pernah berpikir bahwa jika film itu tetap dipaksakan untuk dibuat bisa menjadi manfaat bagi semua orang atau malah menjadi malapetaka.

semua memang harus dipikir secara mendalam, sekali lagi memang perlu kedewasaan serta hati yang mau terbuka agar semua dapat berjalan dengan manfaat yang maksimal. Semoga kedewasaan manusia Indonesia semakin hari semakin bertambah