Ya begitulah keadannya, memang fenomenal sekali pemerintahan RI yang sekarang ini. Membuat kebijakan yang sangat popular di mata rakyatnya, yaitu menurunkan harga BBM. Memang selama RI dipimpin oleh 5 kepala negara, baru kepala negara yang ke enam yan berani menurunkan harga BBM (terutama pertamax dan bensin).
Ketika kebijakan ini diumumkan, rakyat menyambut gembira. Banyak yang menyanjung- nyanjung pemerintahan ini, pujian bertubi – tubi datang, hampir semua orang angkat topi dengannya. Tapi ada juga yang meragukan kebijakan ini hanya sekedar menarik simpati rakyat, mengingat tahun depan pemilihan presiden akan dilaksanakan dan kalau tidak ada halangan presiden sekarang (wakil presidennya juga) akan mencalonkan diri kembali. Wah..wah ….wah, sinisme tetap akan selalu terdengar saat suatu kebijakan dibuat pemerintah. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa ini hanya salah satu strategi pemerintah untuk bisa meredam demontrasi – demontrasi yang banyak digelar hanya untuk menuntut penurunan harga BBM.
Tapi sekali lagi kita patut bersyukur atas keberanian pemerintah sekarang ini, di luar ada skenario politik di belakangnya atau segala tetek bengek lainnya. Sekarang melihat kenyataan di lapangan setelah hampir 1 minggu harga BBM (pertamax dan bensin) turun. Pasokannya ternyata juga dibuat pertamina (pemegang hak atas penditribusian BBM) tersendat – sendat. Terbukti di beberapa daerah terjadi antrian panjang untuk sekedar mengisi bahan bakar di SPBU. Menurut pengelola SPBU memang setelah penurunan harga pasokan dari Pertamina agak berkurang, yang biasanya setiap hari disetor 3 tanki sekarang menjadi tiap 3 hari disetor 2 tanki.
Fenomena ini kelihatannya memang disengaja, pertama rakyat dibuat terbuai dengan euforia semu tapi kemudian dihadapkan dengan sebuah kenyataan yang diskenoario sedemikian rupa. Kita bisa berpikir apakah pemerintah sekarang itu benar – benar rela menurunkan harga BBM atau hanya kerjaan si”Pedagang” yang tidak mau rugi saja. Keputusan untuk menilai memang akhirnya jatuh ke tangan rakyat.
