14 Februari 2009
Kalau kita mencermati berita akhir – akhir ini, yang paling hangat adalah tentang DPT (terutama) di Jatim yang dicurigai banyakseputar DPT di Jatim ini bahkan telah membuat seorang Jenderal POLRI (Kapolda Jatim) mengundurkan diri hanya karena tekanan banyak pihak.
Memang jika kita mau melihat lebih jauh lagi, maka belum ada pihak yang dirugikan. Akan tetapi jika hal ini didiamkan, maka tidak bisa dipungkiri ada beberapa pihak (terutama yang kalah dalam pesta demokrasi ini) akan menggugat.
Kesalahan (kalau tidak bisa disebut kelalaian) tentang DPT ini juga menunjukkan betapa salah kaprah dan rusaknya sistem administrasi kependudukan di Indonesia ini. Hal ini dipertegas dengan selisih jumlah penduduk antara BPS dan Bagian kependudukan. mengandung kepalsuan.
Sudah lebih dari 50 tahun kita merdeka, masa sistem kependudukan kita juga tidak berubah atau b\tidak diperbaiki. Jangan – jangan (sentimen pribadi nih) jumlah penduduk Indonesia sebenarnya juga tidak lebih dari 200 juta orang.
Sekedar koreksi terhadap BPS atau Badan yang mengurusi Kependudukan di Indonesia, teknologi semakin canggih, dana juga melimpah (daripada dikorupsi), pakailah itu semaksimal mungkin demi kesejahteraan bersama.
Technorati Tags: DPT, Politik, Pemilu, BPS, Jatim

Leave a Comment » |
Negarakoe |
Permalink
Ditulis oleh damarwikan
4 Februari 2009
demokrasi tau Democrazy, itulah sebenarnya yang terjadi di Indonesia. jika kita mau merunut waktu ke belakang sedikit. Mesin penggerak demokrasi di negara ini adalah para pemuda (dhi mahasiswa), tapi alangkah malangnya nasib mahasiswa sekarang yang sering kali mereka berdemo tanpa alasan yang jelas. Ingin memperjuangkan nasib rakyat, tapi ketika berdemo malah merugikan rakyat (membuat perjalanan jadi macet), saat berdemo juga kadang (lebih banyak sih) mempergunakan kekerasan.
Satu pertanyaan yang mengganjal adalah dimana letak ke-logisan pikiran pada akademia, yang kata orang lebih bisa berpikir logis daripada orang lain yang tidak pernah “memakan bangku sekolahan/kuliah”. Jika cara kekerasan selalu menjadi senjata utama saat berdemo.
Secara global, mulai banyak orang yang berpikir negatif, apatis jika mendengar kata demo mahasiswa. soalnya toh akhirnya ticuh juga, gak ada bedanya dengan demo sopir angkot atau buruh (malahan demo sopir angkot dan buruh lebih sopan, gak ada ricuhnya sama sekali). Sekedar alasan yang dibuat ketika ditanya kenapa ricuh, selalu menyalahkan pihak lain (polisi ata satuan pengamanan lain), para pendemo selalu bilang bahwa ada provokator di pihak keamanan sehingga memancing mereka untuk rusuh. Tapi alasan itu bisa disangkal dengan jawaban : bila dari semula memang tidak menginginkan ricuh (semangatnya adalah sopan dan santun) tentu saja provokasi macam apapun tidak akan sanggup membuat / memancing keributan dalam demo bukan ?
sekedar himbauan supaya intropeksi diri, bagi para mahasiswa, jika anda memang ingin dihargai rakyat saat demo untuk memperjuangkan aspirasi rakyat. berdemolah dengan sopan, santun dan tanpa kekerasan serta kericuhan. Technorati Tags: demokrasi, mahasiswa, Dewan, politik, ricuh
Leave a Comment » |
Negarakoe, Tak Berkategori | Ditandai: demonstrasi, Dewan, kekerasan, mahasiswa, ricuh |
Permalink
Ditulis oleh damarwikan