Ktidak bijaksanaan Sang Presiden

18 Juli 2009

Sungguh disayangkan apa yang menjadi komentar dari Presiden incumbent serta Presiden terpilih versi QuickCount Indonesia thn 2009 – 2014. Di saat sebagian rakyat sedang menderita karena hasil kerja dari segelintir orang yang tidak bertanggung jawab, Sang Presiden dengan nada tinggi serta kata – kata yang tidak menyejukkan malah mengeluarkan statemen seperti kemarin. Sebagai seorang Negarawan yang baik (begitu klaim atas dirinya), sungguh tidak beretika mengeluarkan statemen seperti itu, sama sekali tidak memberi manfaat pada rakyat. Sudah seperti keharusan ketika terjadi bencana seorang negarawan memberikan statemen yan snya kruang lebih adalah kutukan, rasa bela sungkawa serta memberikan kepastian bahwa pengusutan akan berjalan dengan baik supaya si pelaku dapat ditangkap segera.
Hal yang lebih aneh lagi daristatemen Sang Presiden adalah, beliau menyebutkan bahwa semua ini (foto – foto serta ancaman – ancaman) adalah hasil dari intelegen. Bukankah seharusnya hasil intelegen menjadi hal rehasia yang tidak pada tempatnya diungkapkan ke publik (toh tidak ada manfaat juga bagi publik).
Bisa kita lihat betapa Sang Presiden, ketika mengeluarkan statemen, beliau terlhat sangat marah, sangat frustasi, sangat emosi. Sehingga perisiwa Bom itupun beliau jadikan ajang untuk menyerang lawan politiknya, menyudutkan serta memfitnah (kalaupun benar). Bukankah ketika kampanye Pilpres kemaren beliau mengatakan supaya ketika berkampanye selalu santun, tidak menyudutkan serta tidak menghujat, tetapi mengapa setelah terpilih dengan mudahnya beliau berubah.
dimana letak kesantunan dan kemapanan Negarawan yang baik itu sekarang.
Kita boleh belajar bahwa ternyata Presiden bisa juga tersinggung dan marah. meskipun di luar tampak santun, sopan dan bersahaja tapi di dalam meledak – ledak dengan amarah.