Mencoba yang baru

23 Desember 2008

Selamat Natal semuanya, Damai sorga selalu dirasakan kita semua


LastRI oh lastRI

1 Desember 2008

kembali kedewasaan anak manusia terutama manusia yang bercokol di Indonesia diuji. Ketika masih dalam tahap pendekatan, dan permintaan ijin pembuatan shooting Film berjudul Lastri, begitu banyak ormas beserta masyarakat yang mengatasnamakan dirinya perwakilan dari warga Solo menolak dengan alasan karena film tersebut mengangkat tema / latar belakang tahun 1965 (dalam hal ini tentang PKI atau Komunisme).pihak pembuat film mengatakan bahwa film ini murni tentang percintaan, bukan tentang penyebaran paham komunisme. Lha wong sang sutradara adalah seorang Nasionalis Pancasilais. lagian sang sutradara adalah seorang politikus terkenal dan anak seorang kyai terkenal di Jawa Timur. Sungguh mustahil jika tuduhan itu di sodorkan kepada beliau. Tapi pihak yang menolak juga berargumentasi bahwa paham komunisme tetap bisa dikemas dalam bentuk apapun juga, mereka juga mengatakan kenapa tidak membuat film dengan latar belakang yang lain saja selain tahun 1965.

waduh waduh, semakin rumit nih jalan ceritanya. Yang jadi pikiranku adalah pertama, apakah pihak yang menolak sudah pernah membaca skenario secara utuh, atau hanya sepenggal -  sepenggal saja? kalau hanya bermodal “pokoke” wah susah juga untuk memberi pencerahan kepada pikiran mereka yang sudah di tembok sedemikian rupa. Memang komunis pernah membawa suatu trauma tersendiri bagi bangsa ini, tapi apakah komunisnya atau karena mindsetnya yang sudah terbentuk bahwa gara-gara PKI timbul huru hara sedemikian hebatnya. Pikiran kedua, dari pihak pembuat filmnya, apakah mereka juga pernah berpikir bahwa jika film itu tetap dipaksakan untuk dibuat bisa menjadi manfaat bagi semua orang atau malah menjadi malapetaka.

semua memang harus dipikir secara mendalam, sekali lagi memang perlu kedewasaan serta hati yang mau terbuka agar semua dapat berjalan dengan manfaat yang maksimal. Semoga kedewasaan manusia Indonesia semakin hari semakin bertambah


Akhir Minggu yang Melelahkan

23 November 2008

bener – bener deh akhir minggu ini menjadi hari yang melelahkan. sudah dari Senin, aku berjanji ama anakku untuk renang hari ini, dan sebenarnya aku juga sudah tahu kalau pada hari yang sama, akan ada orang sinode yang ngajarin tentang program keuangan.

Orang sinode itupun datangnya pagi, dan harapanku gak lama – lama amat sih, palign lama mungkin 2 – 3 jam. Tapi memang rencana manusia berbeda jauh anma rencana Tuhan. Ternyata yang harus disiapin itu banyak banget, dan programnya gak berjalan mulus (pdhal aku ngerti kalau program yang dijalankan gak bisa sekali jalan selesai). Hasilnya lebih dari 4 jam, harus ngitung saldo awal dulu (nyari di bulan Juni 2008) terus ngitung total inventarisnya (memilah dari yang sudah ada). dan memasukkan satu persatu. trus pas dicek saldo pada bulan Juli ternyata gak sama dengan laporan bulanan yang sudah aku buat.

Alhasil aku harus nyari lagi saldo awal yang selisihnya sekitar 3 jutaan. Pas jam 12  aku dapet sms dari Istriku yang isinya bilang kalau anakku udah nagih janji. trus aku telepon dan bilang diundur sampai jam 2-an. Ternyata sampai jam 2 baru selesai, padahal aku harus beresin perlengkapan dulu. Walaupun dengan muka cemberut akhirnya kami berangkat deh.

Hal lain yang bikin aku sedikit pusing adalah program itu ternyata mengharuskan aku belajar tentang akutansi, Pembukuan Kas pada bank, bank pada kas, piutang, aktiva, pasiva. weleh Mumet aku, akuntansi itu ternyata lebih susah daripada aljabar, kalkulus. Wah harus belajar lebih lagi nih, cari buku akuntansi nih.


Teroris atau Martir (Pahlawan/Lawan)

12 November 2008

akhirnya Tiga sekawan teroris yang menamakan dirinya komplotan Tenggulun di eksekusi. bagi sebagian orang mungkin ini melegakan (para korban dan yang tidak setuju jihad kekerasan tentunya) tapi bagi orang lainnya tentu ini merupakan sesuatu yang harus di pahami sebagai martir(syuhada). Memang pandangan orang bisa berbeda – beda, namun yang harus dipahami adalah bagaimana pandangan tersebut mempengaruhi kehidupan orang lain.

hal ini terlihat ketika di semua stasiun televisi meliput akhir kehidupan para teroris ini, setelah mereka dieksekusi tembak mati, kehadiran mayat mereka saja masih disambut gembira oleh orang – orang yang menganggap mereka itu pahlawan. Sambil berteriak menyebut Tuhan, mereka bahkan menolak aparat untuk masuk dan mengamankan tempat terakhir si teroris itu.

yang aku tidak mengerti adalah sikap mereka itu, apakah tidak terbersit dalam pikiran mereka akibat yang ditimbulkan oleh kerjaan mereka. Dampak bagi ekonomi Indonesia, Bali terkhusus. Bahkan yang paling menderita sekali yaitu para korban, bukan hanya orang luar negeri namun orang sendiri (muslim maupun non muslim). Apakah sudah tidak ada lagi nurani yang baik dalalm pikiran mereka. Aku pikir mereka pasti tidak pernah memiliki empati terhadap apapun, selain untuk kepentingan sendiri.

sungguh kasihan jika Agama, kepercayaan terhadap Tuhan disalahartikan demi mengumbar keinginan sendiri. Tuhan hanya dijadikan tameng agar setiap tingakhnya dianggap suci/sahid.

inilah potret bangsa yang belum siap untuk dewasa, ketika ada hambatan, ketidaksesuaian, tantangan, perbedaan pendapat, maka yang dihadirkan pertama kali adalah kekuatan untuk perang bukan duduk bersama dan menyelesaikannya. Semoga bangsa ini bisa belajar dari kesalahan yang ada.


Moral kok diatur negara?

4 November 2008

RUU Pornografi sudah disahkan jadi UU, siapa yang merasa senang tentu saja mereka – mereka yang diuntungkan dengan pengesahannya (biasanya mereka ini orang – orang yang sok suci, munafik dengan pornografi)

ada yang menarik setelah pengesahan RUU ini, memang dalam beberapa pasal membuat pelaku pornografi dan pornoaksi berpikir dua kali untuk melakukannya. akan tetapi bagi orang – orang yang awam dengan hal itu (dibaca : tidak begitu aktif)

Beberapa anggota Dewan mengatakan bahwa pasal – pasal itu memang berbicara tentang melindungi generasi bangsa yang sudah morat marit ini. Mereka memberi contoh negara Adikuasa Amerika, Singapura. tetapi mereka lupa satu hal bahwa negara itu sudah memberlakukan hukum dengan benar. Artinya Aparat penegak hukum bekerja dengan baik, sehingga untuk urusan Pornografi dan pornoaksi, mereka bener – bener tegas dalam distribusinya.

Sebenarnya yang dibutuhkan Indonesia bukan Undang – Undang yang mengatur hak seseorang, melainkan pengaturan dan pendidikan moral yang dalam terhadap manusianya. Sejatinya jika Negara mampu mendidik moral anak – anak muda generasi bangsanya dengan baik, aku percaya kok kalau pornografi dan pornoaksi akan surut dengan sendirinya.

semoga saja Undang -undang ini tidak disalahgunakan oleh orang – orang yang menamakan dirinya pembela “Allah” (Tuhan kok dibela manusia, emang Tuhan gak mampu bela dirnya sendiri huh)


Seminar Mendidik Anak

4 November 2008

Tanggal 26 Oktober 2008 kemaren, aku dan istri ikut seminar keluarga muda di gereja, GKJ Nusukan, dengan tema Anak dalah mutiara berharga di mata Allah” pembicara seminar tersebut adalah Ibu Adeline Anatasia A A, S.Si, S.Psi dari Mitra Peduli Centre Semarang. Waktu kami berdua memutuskan ikut seminar itu, dalam pikiranku sama sekali gak ada gambaran nanti seminar itu akan berbicara tentang anak yang seperti apa. Yang ada hanya pikiran paling – paling gimana mendidik anak yang bener, seperti Alkitab bilang, atau paling banter seperti Serial “Nanny 911” di Metro TV.

Pembicara membawakan makalah dengan cukup cepat, alasannya bahan yang ingin diberikan itu adalah bahan utk 9 session (kurang lebih utk 2 hari penuh), makanya dia berusaha memberikan hal – hal yang dianggap paling penting saja.

Dari semianr itu ada beberapa hal yang aku dapatkan, dan mudah – mudahan bisa kupraktekkan ke anak – anakku (Damar – Wikan), salah satu contohnya : saat anak mau berangkat sekolah yang dibutuhkan adalah dorongan, motivasi bukannya cercaaan, omelan serta makian malahan. (padahal sering kali itu terjadi sama anakku). Contoh lain : untuk anak usia SD ke bawah (pra sekolah, sampai usia SD) orang tua harus memberikan pengertian tentang Benar dan Salah, Hitam dan Putih (bukan abu – abu) artinya kita harus tegas memberi pengertian ini boleh dan itu tidak boleh. Pembicara bilang ini model Diktator. Mengapa harus demikian, karena itu akan membentuk watak si anak, dan pada usia itu anak tidak bisa berpikir logika kehidupan, yang mereka tahu adalah nyata dan tegas.

Ada hal lain yang kami dapat yaitu untuk mengetahui cara mendidik anak yang tepat adalah pertama, kita harus refleksi / intropeksi diri, bagaimana cara orang tua masing mendidik kita, apakah keras, otoriter, penuh sentuhan, memiliki waktu khusus, pelayanan, hadiah. Kedua, Setelah kita tahu cara orang tua mendidik kita maka kita otomatis bisa menerapkan hal yang kita peroleh dari orang tua kita ke anak – anak kita (tentu dari segi positifnya saja). Misalkan kalau bapak kita mendidik dengan cara sentuhan fisik (sering memeluk, sering membeli, menggandeng tapi saat marah juga memukul) dan ibu kita sering memanjakan kita (dilayani semua kebutuhan kita, makan disuapi, minum diambilkan, baju dicucikan, disetrikakan dan lain sebagainya) maka kita bisa mendidik anak dengan cara sentuhan fisik (memeluk, membelai, menggandeng) dan dengan cara pelayanan (dimanjakan) namun dengan cara positif.

Saat ada pertanyaan, boleh tidak kita memukul anak, jawaban dari peserta ada dua dengan berbagai alasan. Ada yang boleh jika kesalahannya sudah terlalu fatal, ada yang menjawab tidak boleh karena bisa menyebabkan trauma. Namun pembicara memberi solusi yaitu orang tua boleh memukul anak dengan syarat tanpa disertai emosi, yang boleh dipukul juga tertentu saja yaitu pantat.

Yang kudapat dari seminar itu intinya dalah jika kita ingin mendidik anak kita secara tepat, orang tua perlu intropeksi diri. Orang tua juga harus berpikir dari sudut pandang anak, jangan melulu berpikir dari diri sendiri.


Hari yang aneh

7 Agustus 2008

ini memang hari yang aneh,

gak tahu aku sering merasa seperti ini, beberapa kali malah dan sebabnya gak jelas. Dimulai dengan ketika kemaren sore anakku yang pertama (Damar) bangun siang dengan tubuh agak meriang. langsung aja saat itu yang ada dalam pikiranku adalah makanan apa saja yang sudah dia makan seharian itu yang bisa bikin anak ini menjadi meriang. Setelah tanya sana tanya sini, aku simpulkan kalau pagi itu dia dikasih makan sama tetangga kue bika ambon (yang gak kutahu ingredient-nya). Alhasil malam itu sampai jam 3 pagi Damar batuk terus gak henti2 rasanya kasian sampai nafasnya susah.

Pagi ini suhu badannya juga gak turun, pdhal udah dikasih minum penurun panas, pas mau berangkat sekolah sempat bingung juga, dibiarkan berangkat atau ijin dulu. Akhirnya istriku memutuskan untuk menemani sekolah, walau dengan hati was – was

Siangnya aku dikasih laporan isitriku kalau suhu badannya mulai turun, alias Damar mulai bisa berkeringat (artinya tubuhnya mulai normal lagi).

Nah sore ini, pas dia main game (aku nungguin) tiba – tiba saja aku ngerasa ada yang ngganjal. Entah apa itu, rasanya pengen teriak. Terus terang aja kalau perasaanku lagi kayak getu, biasanya aku lariin dengan nge – net, kaya sekarang ini.

Doaku saja moga – moga aja Damar sampai nanti malam suhu tubuhnya gak naik lagi, soalnya aku masih sedikit trauma dengan naik turunnya suhu tubuh, abis terakhir dia kaya getu hasilnya harus mondok di RS selama 4 hari dengan diagnosa DBD.


Terkenang – kenang

6 Juli 2008

kemaren soren aku dan istriku dapet undangan persekutuan doa untuk mantenan tetangga, btw mereka itu yang dulu beli rumahku (dengan harga persodaraan tapi bayarnya juga semena-mena). waktu aku datang (yang memang sengaja kusetting telat) aku dapat duduk di pinggir rumah. Persekutuan doa itupun dimulai dengan khidmat.

namun aku gak mau ngomentari persekutuan doa itu, hanya tempat persekutuan doa itu yang bikin memori masa kecilku bangkit. sedikit rasa marah, romantis, dan sebagainya jadi satu. Marah karena rumah tempat masa kecilku (hampir seluruh hidupku malahan) dihabiskan ternyata harus dijual. Romantis karena kenangan waktu pacaran sama bekas istriku (sekarang dah jadi istri) di situ pula. tapi apa daya memang itulah jalan hidupku yang harus seperti itu.

Mau marah tapi sama siapa, sama yang beli rumah itu atau sama sodara2 dari ibuku. Aku gak tahu, dan sampai sekarang masih ada saja perasaan gak rela rumah itu sampai terjual ke tangan lain. memang idealnya rumah itu nanti aku sama adikku yang nempati (kalau gak kami jual utk dibagi berdua hehehe)

Setiap kali aku hanya bisa berdoa supaya perasaan ini segera bisa keluar (minimal aku kelola) dengan baik


Minggu bingung

7 Mei 2008

Bulan Mei baru masuk hari yang ke 7, kantong juga masih full (walaupun penggunaan pasti ada), anak-anak masih sehat sehat saja, istri masih cantik dan memberikan perhatian yang cukup bagus.

tapi gak tahu nih ada apa denganku, kok rasanya ada yang kurang saja. Pekerjaan kantor untuk bikin laporan bulanan juga sudah selesai kemaren, trus ngurus transfer rekening juga udah selesai hari ini. Tetep saja masih ada yang ngganjal. Perasaanku masih ada belum selesai saja.

Memang sih untuk urusan BPKB yang dipinjem adikku belum kelar, katanya nunggu orang yang pegang pulang dari Medan (itu 2 minggu yang lalu). mungkin itu juga yang bikin aku kepikiran sampai sekarang. Soalnya ini berurusan dengan orang yang aku sendiri gak begitu percaya. masak katanya tinggal nunggu ngasih duit kok sampai sekarang belum dikasih2, alasannya yang pegang duit anaknya sakit jadi gak enak nagih.

waduh…………… kalau urusan pekerjaan masih digabung dengan  perasaan. sampai kapan kelarnya. Kalau urusan kerjaan memang kadang harus tegas, dalam arti gak ada kompromi, gak ada alasan apun. khan menyangkut kepercayaan.

wah… [using deh kalau mikir itu, pokoke sekarang aku mencoba mencari akar permasalahan, kenapa pikiranku gak bisa “sumeleh”, pasrah. supaya bisa menjalani hidup dengan tenang, damai dan menyenangkan.


Akhirnya masuk TK

24 April 2008

Mungkin aku harus mencabut kata-kataku yang dulu, bahwa aku dan istriku “pengennya” memasukkan Damar (anakku pertama) ke playgroup. Supaya bisa adaptasi dengan suasana bersekolah. Tapi di luar dugaan, ketika istriku mengambil formulir pendaftaran, oleh salah seorang guru di situ malah dianjurkan supaya langsung masuk ke TK. Guru itu memberikan pertimbangan bahwa playgroup dan TK A (TK Kecil) masuknya sama setiap hari, perbedaannya hanya di jam masuk (selisih ½ jam saja) serta di pelajarannya (playgroup lebih banyak bermain, sedang TK sudah mulai diajari huruf dan angka, serta menulis dan membaca).

Sempat juga sih kami bingung, apakah Damar mampu mengikuti pelajaran itu, apakah dia gak stress? Tapi setelah bertanya sana – sini dan mencari bocoran ke orang tua yang menyekolahkan anaknya ke situ, ternyata kebanyakan anak mereka tidak begitu kaget dengan suasana yang ada, artinya walaupun tidak memiliki latar belakang diajari di rumah tetap saja bisa mengejar. Mendengar hal itu kami menjadi yakin bahwa memasukkan Damar ke TK adalah pilihan yang terbaik (pilihan yang bijak…….belum tentu juga).

Disamping itu, istriku juga sudah mengajari Damar angka dan huruf, walaupun masih belepotan sih. Tapi Damar bisa kok kalau hanya huruf A – Z serta angka 0 – 9. kalau menulis angka dan huruf memang baru sedikit – sedikit, harus dibantu dengan titik –titik. Dari sinilah kami berdua semakin tambah yakin untuk segera memasukkan ke TK. Di luar itu juga, kami bisa mengajkuan besiswa ke YKHD lewat Sinode. Lumayan dapat bantuan SPP, setidaknya meringankan pengeluaran bulanan walau tetep saja harus ekstra uang saku.