“Bapak”ku sayang “bapak”ku malang

18 Maret 2008

waduhhhhhh, kasihan juga kalau dengar kata2 temen kantor soal pak pendeta satu ini, soalnya pasti sangat menyengat kuping, bikin merah hati sikuping.

memang aku gak tahu apa yang melatar belakangi mereka, sehingga membuat temen kantor ku begitu memojokkan si bapak ini. dan aku juga gak tahu sikap bapak ini seperti apa terhadap temen kantorku itu. Misalkan aku menjadi sibapak ini dan mendengar kata-kata maupun tindakan temen kantor ini, tentu saja bisa terjadi perang tanding, Baratayuda ke 2. untung saja aku bukan si bapak, yang dengan kalemnya (tentu dia tahu perlakuan dan gosip yang diedarkan oleh temen kantorku) dan bijaksana (menurut ukuranku), tenang saja dengan segala perlakuan yang dia dapatkan.

di sisi lain, kadang kelakuan si bapak ini juga agak menjengkelkan. sampai hari ini, segala sesuatu yang berhubungan dengan kontrak kerjanya, belum bisa diputuskan. mungkin banyak pertimbangan yang dia pikirkan. tapi sebagai orang yang di”muliakan”, mbok yao bisa segera memutuskan. apak lanjut, tetap smapai kontrak habis atau melanjutkan kuliah?

kalau aku pribadi, sengaja aku gak mau ikut campur dengan masalah ini. biar temen kantorku tetap seperti itu (selama tidak keterlaluan saja), dan sibapak dengan gayanya sendiri.

biar Tuhan yang melihat dan menilai amin