Sungguh disayangkan apa yang menjadi komentar dari Presiden incumbent serta Presiden terpilih versi QuickCount Indonesia thn 2009 – 2014. Di saat sebagian rakyat sedang menderita karena hasil kerja dari segelintir orang yang tidak bertanggung jawab, Sang Presiden dengan nada tinggi serta kata – kata yang tidak menyejukkan malah mengeluarkan statemen seperti kemarin. Sebagai seorang Negarawan yang baik (begitu klaim atas dirinya), sungguh tidak beretika mengeluarkan statemen seperti itu, sama sekali tidak memberi manfaat pada rakyat. Sudah seperti keharusan ketika terjadi bencana seorang negarawan memberikan statemen yan snya kruang lebih adalah kutukan, rasa bela sungkawa serta memberikan kepastian bahwa pengusutan akan berjalan dengan baik supaya si pelaku dapat ditangkap segera.
Hal yang lebih aneh lagi daristatemen Sang Presiden adalah, beliau menyebutkan bahwa semua ini (foto – foto serta ancaman – ancaman) adalah hasil dari intelegen. Bukankah seharusnya hasil intelegen menjadi hal rehasia yang tidak pada tempatnya diungkapkan ke publik (toh tidak ada manfaat juga bagi publik).
Bisa kita lihat betapa Sang Presiden, ketika mengeluarkan statemen, beliau terlhat sangat marah, sangat frustasi, sangat emosi. Sehingga perisiwa Bom itupun beliau jadikan ajang untuk menyerang lawan politiknya, menyudutkan serta memfitnah (kalaupun benar). Bukankah ketika kampanye Pilpres kemaren beliau mengatakan supaya ketika berkampanye selalu santun, tidak menyudutkan serta tidak menghujat, tetapi mengapa setelah terpilih dengan mudahnya beliau berubah.
dimana letak kesantunan dan kemapanan Negarawan yang baik itu sekarang.
Kita boleh belajar bahwa ternyata Presiden bisa juga tersinggung dan marah. meskipun di luar tampak santun, sopan dan bersahaja tapi di dalam meledak – ledak dengan amarah.
Ktidak bijaksanaan Sang Presiden
18 Juli 2009Capres dan Cawapres
29 Januari 2009bursa menuju RI 1 semakin memanas, Ketua dari partai – partai besar mulai memasang diri sebagai Capres (walaupun kadang belum Rakernas pun sudah menunjuk diri sebagai Capres) tidak ada seorangpun yang “berani” unjuk diri sebagai Cawapres. Salah satunya hasil dari Rakernas PDIP di Sala yang mengusung Megawati sebagai Capres dan mencari – cari pasangan caWapresnya lihat di sini.
Selain itu ada juga anggota partai besar yang mencoba peruntungannya dengan mendeklarasikan diri sebagai Capres (meski partainya ngotot untuk memasukkan Sang ketua umum sebagai Capres). Dari sini kita bisa melihat bahwa sistem demokrasi yang sering didengung – dengungkan oleh para elite politik ternyata hanya semu, ketika ada orang lain yang mencalonkan diri (bahkan baru mendeklarasikan diri.
Melihat sedikit ke partai Golkar, sebegitu pesimisnya terhadap JK ketika Sultan mendeklarasikan diri kemudian dianggap sebagai lawan yang harus dijatuhkan. Kemudian ketika Sultan (secara pribadi) diundang oleh Megawati untuk menghadiri Rakernas, Salah seorang ketua (Muladi) terbakar emosinya dengan mengajukan Sultan supaya di keluarkan dari Partai karena melanggar AD/ART (alasan bisa dicari – cari).
Ah sekali lagi ini semuahanya soal perebutan kekuasaan, rakyat kecil seperti kita tidak akan dapat imbasnya, kecuali tergencet dan tersingkir ketika salah satu dari mereka berkuasa kelak.
Ditulis oleh damarwikan
Ditulis oleh damarwikan 